Academic17 Sep 2010 12:12 pm

Saya mungkin salah satu yang agak sedikit peduli terhadap lingkungan. Mungkin akibat saya terkadang ingin semua tertata rapi. Lah? Apa hubungannya? Bermula dari kesenangan merapikan sampah, kurang kerjaan ga? hehe. Lalu semakin hari saya belajar tentang penguraian sampah plastik yang lamaaaaaa banget, bahkan penggunanya pun tak akan bisa menyaksikan plastik yang mereka gunakan terurai. Lalu ayah saya mengajari tentang pengolahan pupuk organik dari bahan-bahan organik seperti sampah rumah tangga, urin, dan lain lain. Saya pun mencoba memebuat pupuk organik bersama ayah saya dan menggunakan pupuknya di tanaman halaman rumah.

Dulu, saya menyebut diri saya “water hero“, untuk panggilan pribadi saat diskusi dengan hati kecil saya. Apa maksudnya? Terkadang keran air di tempat wudhu ditutup tidak sempurna, saya sering menutup kerannya. Sebuah kepuasan tersendiri melakukan hal kecil ini. Rasanya saya telah membantu sebagian kecil air untuk masa depan. Mungkin sebagian orang akan menertawakan, atau berkata tak ada efeknya, tapi bayangkan bila satu tetes tiap menit, enampuluh tetes per jam, 1440 tetes per hari yang terbuang. Memang sedikit lebay, tapi itulah faktanya. Pernah dengar kisah 2070? Saat air lebih berharga dari berlian? Waduh, ko jadi berat gini hehe. Makanya, saya menyayangkan tenpat-tempat yang kaya akan air yang kerannya bocor tidak diperbaiki. Masih banyak yang kurang mengerti dampaknya karena tidak secara langsung terasa.

Lalu tentang sampah, saya teringat artikel yang pernah saya baca. “Bayangkan bila satu bungkus permen kecil dibuang oleh seribu orang setiap harinya” Hiiy, saya ngga mau membayangkan masa depan yang akan diakibatkan oleh pernyataan yang memang sudah terjadi akhir-akhir ini. Saya selalu menyimpan sampah yang saya akan buang di tas sebelum bertemu dengan tempat sampah. Saya juga teringat akan pernyataan “One Rubbish A Day” Mirip pernyataan one apple a day ya? Hehe maknanya mirip, yaitu paling tidak, satu orang manusia harus membuang minimal satu sampah pada tempatnya dalam satu hari.

Yah, tiga hal diatas mungkin bukan berupa cerita yang menginspirasi. Malah jadinya seperti orasi lingkungan hehe. Ini hanya pengalaman kecil saya yang ingin saya bagi pada kalian semua. Saya juga mungkin hanya orang awam yang tanpa data lingkungan menulis cerita ini, namun saya harap orang-orang yang membacanya akan terinspirasi untuk menjaga lingkungan yang semakin rusak.

Academic17 Sep 2010 12:09 pm

Ini adalah sebuah cerita tentang ibu yang luar biasa. Walau setiap ibu memiliki ke-luarbiasa-annya sendiri-sendiri, namun pasti seorang anak memiliki kesan dan kekaguman tersendiri kepada ibunya. Sebut saja namanya Bu Laksmi.

Semasa kecilnya, Bu Laksmi hidup nyaman di tengah-tengah keluarga yang harmonis. Memiliki seorang bapak yang memiliki jabatan lumayan tinggi dan sangat menyayangi keluarga, ibu yang pintar masak dan perhatian, dan saudara-saudara yang menyenangkan. Sampai suatu saat, ayahnya menikah lagi, hingga dua kali. Tak lama kemudian bisnis ayahnya jatuh karena dicurangi. Jatuh sakitlah ayahnya. Kasih sayang ayahnya yang selama ini tercurah pun berkurang karena harus terbagi pada tiga atap. Ia sungguh kesal, namun apa daya, seorang bocah omongannya hanya jadi bahan tertawaan orang dewasa. Di tengah musibah yang melanda, Ia tetap harus menjadi pelajar yang baik, Ia ingin membanggakan ayah dan ibunya. Ia belajar hingga larut malam. Ia pun berhasil masuk ke salah satu universitas terfavorit dengan beasiswa dari seorang dermawan. Ia pun mengintensifkan ibadah-ibadah untuk menguatkan ruhiyahnya.

Tak lama setelah lulus, setelah menikah, ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung. Betapa sedihnya. Saat itu pula, Ia harus merangkak menjalani hidup baru dari nol bersama suaminya Bermodal dari uang kotak pernikahan, ia dan suaminya pindah dari kontrakan demi kontrakan, mencicil barang-barang rumah tangga di tengah krisis moneter, serta menghidupi dua anak yang semakin kritis. Namun sejalan dengan ujian yang semakin berat, Bu Laksmi dan suaminya semakin kuat. Beruntung, tempat kerjanya menyediakan rumah tinggal dengan biaya bulanan yang sangat ringan, mereka pun tak perlu memikirkan biaya kontrakan lagi. Anak mereka tumbuh dengan baik, keduanya cerdas dan aktif. Ia memasukkan anak-anaknya ke sekolah islam, walaupun harus tertatih menutupi biaya masuk yang cukup mahal agar dapat memahami agama dari kecil. Sekarang, Bu Laksmi telah sukses dan tidak lupa berbagi dengan tetangga sekitarnya, anak-anaknya pun selalu juara di sekolah maupun kampusnya.

Kisah Bu Laksmi yang selalu mengingat-Nya di saat sulit maupun senang, tak lupa berdoa di setiap saat, selalu menginspirasi saya untuk terus bangkit dalam keadaan jatuh dan harus terus bersabar, karena Allah tidak akan mengubah kaumnya sebelum mereka mengubah dirinya sendiri. BANGKIT ! hehe

pelatihan27 Jul 2010 07:44 pm

di cyber student center